Cerpen : Terminal Terakhir Karya Achmad Al Hafidz

PAKAR BERITA – Saya masuk kamar.

Hujan yang mengguyur atap telah menghilangkan bau hujan.

Rumah itu mengundang saya.

Rumah terindah di dunia.

Rumah yang penuh cinta, rasa sakit, dan impian.

Laura, yang kuselamatkan, ditinggalkan dengan mimpi yang ingin kuketahui.

Mereka meninggalkan lelucon di kedai kopi ketika mereka lelah mengajar.

Menabrak aspal, debu, dan suhu matahari yang sejuk 39ÂșC.

Dimana rumah kedua jatuh?

Apakah jembatan Emberok yang saya lewati dan bau sungainya membuat saya semakin rindu dengan desa tersebut?

Pak Fatur adalah lelucon terakhir yang saya dengar dari seorang guru yang sangat lucu saat mengajar.

“Ini terminal terakhir, terminal terakhirmu jika ingin mencari pasanganmu. Kalau sudah berpasangan, jangan lakukan itu.”

Saya selalu diberi lelucon oleh teman serumah saya. Aku sebenarnya tidak punya masalah.

Tapi setelah beberapa saat saya terus memikirkannya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *